BUKU FIKIH EKONOMI UMAR BIN AL-KHATHTHAB

BUKU FIKIH EKONOMI UMAR BIN AL-KHATHTHAB

Di Indonesia, Ekonomi Syariah sedang berkembang pesat. Untuk menopang perkembangannya, dibutuhkan kajian dan literature yang lengkap. Salah satu literature penting adalah buku ini, fikih Ekonomi Umar bin Al-Khathab. Buku ini merupakan disertasi DR. Jaribah bin Ahmad Al-Haritsi pada program S3 Ekonomi Islam Fakultas Syariah dan studi keislaman Universitas Ummul Qura Makkah dengan predikat Summa Cumlaude

Category:

Description

Siapakah di antara kaum muslimin yang tidak mengenal pribadi Khalifah kedua dalam Islam yang mempunyai sekian prestasi yang gemilang? Tentunya tidak ada, kecuali ia terluput dari khutbah-khutbah kaum muslimin setiap pekannya. Inilah konsep ekonomi yang diletakkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu tersaji dalam beberapa bab yang sistematis.

Sungguh merupakan tonggak dasar bagi umat Islam, jika mereka memiliki ekonomi kuat yang merealisasikan kecukupannya, menjaga kemandiriannya, dan membantu alam melaksanakan risalahnya. Tanpa demikian itu umat Islam tidak akan stabil kondisinya dan mapan posisinya. Umat Islam tidak akan mampu mewujudkan ekonomi yang diharapkan tersebut bila mereka tidak menegakkan bangunannya sesuai akidahnya, dasar dan cabang-cabangnya tidak bermuara dari syariatnya, mandiri sumbernya dari berbagai madzhab konvensional, dan mencukupkan dia dengan metodologinya dari berbagai metodologi produk manusia.

BEKERJA SEBAIK-BAIKNYA

Di dalam ekonomi Islam, maka kualitas produksi tidak hanya berkaitan dengan tujuan materi semata, namun sebagai tuntutan Islam dalam seluruh bidang kehidupan. Sebab, prinsip dasarnya seorang muslim selalu berupaya menekankan kualitas semua pekerjaannya dan memperbagus seluruh produknya, sebagai bentuk pengamalan firman Allah Ta’ala,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Surat Al-Mulk: 2) Selengkapnya hal.78

WASPADA PEMBATAL SEDEKAH

Islam menilai mengungkit-ungkit pemberian dan menyakiti perasaan penerima sebagai dua hal yang membatalkan sedekah, karena dampaknya dalam menghilangkan tujuan sedekah, yaitu merealisasikan kecintaan dan kasih sayang. Allah Azza wa Jalla berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Surat Al-Baqarah: 264

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “BUKU FIKIH EKONOMI UMAR BIN AL-KHATHTHAB”

Your email address will not be published. Required fields are marked *